Kalau bukan kita yang bertindak, siapa lagi?

Aku sama seperti kebanyakan masyarakat umum lainnya yang tidak pernah terlintas dipikiran untuk mengelola sampah secara bertanggungjawab seperti yang sudah dilakukan oleh Waste4Change. Melihat tumpukan sampah saja aku enggan apalagi untuk mengelolanya. Mencium baunya saja sudah mengganggu indera penciumanku apalagi memegangnya. Sejak kecil aku hanya diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Itu saja terkadang masih berat untuk melakukannya dengan sadar karena menurutku sampah adalah sesuatu yang tidak punya nilai, pantas untuk diabaikan dan menjijikkan. Hingga dua tahun lalu, aku mendapatkan kesempatan bergabung dengan salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang kesehatan dan lingkungan di Kota Yogyakarta. Disitulah aku diperkenalkan dengan metode pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan bank sampah. Siapa sangka, selama kurang lebih 5 bulan berkenalan dan berbaur dengan komunitas bank sampah menjadi titik awalku untuk peduli dengan sampah dan mengerti bagaimana harus mengambil peran.

Berbicara mengenai sampah, sampah ternyata sudah menjadi masalah dihampir semua negara tidak terkecuali Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Tahun 2020, menyebutkan bahwa volume timbulan sampah di Indonesia mencapai 67.8 Ton/tahun. Sebuah angka yang sangat fantastis karena timbulan sampah tersebut lebih besar dari Candi Borobudur. Mirisnya lagi adalah salah satu fasilitas pengelolaan sampah yaitu Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) di Indonesia yang berjumlah 280, satu per satu dikabarkan sudah mengalami kelebihan kapasitas. Aku merasa bersalah dan payah mengetahui kenyataan ini. Aku akui bahwa aku salah satu orang yang masih berkontribusi dalam meningkatkan volume sampah tersebut karena aku masih membuang sampah pada tempatnya saja. Aku kira dengan membuang sampah pada tempatnya saja sudah selesai tanpa harus merasa resah dan bersalah. Tetapi ketika tahu kenyataan pahit ini, aku akan memilih mengirimkannya ke perusahaan pengelolaan sampah yang profesional dan bertanggungjawab di Indonesia yaitu https://waste4change.com. Waste4Change sendiri sudah 7 tahun konsisten dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam pengelolaan sampah yang bertanggungjawab.

Sekilas kondisi permasalahan sampah diatas seharusnya sudah cukup membuka mata dan hatiku bahwa bumi sedang tidak baik baik saja. Bumi butuh bantuanku, bantunmu dan bantuan kita semua untuk segera bertindak dan ambil peran. Aku akan memberitahumu salah satu tindakan kecil yang berdampak besar pada perubahan volume timbulan sampah di TPA yaitu mulai mengelola sampah dari rumah. Anggap saja tindakan ini adalah sebagai bentuk tanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan sendiri. Aku rasa hal ini akan sangat mudah dilakukan mengingat sampah yang dihasilkan adalah milik sendiri dengan volume yang masih sedikit dibandingkan dengan volume yang terdapat di TPA. Harapannya bukan tidak mungkin jika 5 – 10 tahun mendatang volume timbulan sampah bisa berkurang jika kita mampu melakukannya secara bersama mulai sekarang. Lalu kita bisa menggunakan layanan Personal Waste Management di http://w4c.id/PWM untuk membawa dan mengelola sampah yang sudah terpilah dari rumah. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan permasalahan sampah dirumah dan terbebas dari rasa resah dan bersalah dengan bumi. Selain itu keuntungan yang kita dapatkan adalah kita dapat melakukan pemilahan 100% sampah anorganik, memperpanjang usia hidup material melalui daur ulang, mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA, meningkatkan kesejahteraan operator sampah, dan meningkatkan tingkat daur ulang sampah itu sendiri. Mengingat saat ini hanya 20% dari sampah plastik Indonesia yang didaur ulang (McKinsey, 2015).

Pengalaman pertama yang aku dapatkan ketika belajar mengelola sampah dari rumah adalah “ngapain sih kamu ambil sampah di tempat sampah? mirip pemulung saja!”. Meskipun disampaikan dengan candaan, kalimat itu mungkin akan menjadi hal yang wajar kalian dengar ketika selama ini keluarga belum mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Oleh karena itu, jangan pernah langsung putus asa, sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan ajarkan kepada mereka maksud dan tujuanmu melakukan hal tersebut. Mengubah kebiasaan seseorang memang tidak mudah dan membutuhkan waktu, namun perubahan itu akan nyata ketika kita mau memulainya. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika akhirnya aku melihat keluargaku turut serta melakukan hal yang sama.

Aku berharap diluar sana ada ribuan bahkan jutaan keluarga yang ikut melakukan hal serupa. Bahkan lebih hebat lagi ketika sekelas perusahaan yang memiliki banyak karyawan tetapi karena keterbatasan tenaga dan waktu untuk mengelola sampahnya sendiri bisa menggunakan layanan Pengelolaan Sampah yang dimiliki oleh perusahaan pengelolaan sampah bertanggungjawab Waste4Change di https://waste4change.com/official/service/responsible-waste-management untuk ikut mengambil peran dalam gerakan Sebarkan Semangat #BijakKelolaSampah. Keuntungan yang perusahaan dapatkan yaitu pendekatan manajemen sampah yang 100% terpilah, meningkatkan citra perusahaan, mengurangi timbulan sampah yang terbuang ke TPA, menaati peraturan pemerintah (PP) No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, serta mendukung Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 (JAKSTRANAS) dan bagian yang paling penting adalah meningkatkan kepedulian pegawai tentang isu sampah.

Terakhir, aku mau sedikit memberikan pengingat bahwa bumi kita hanya satu. Kalau bukan kita yang bertindak, siapa lagi? Aku percaya bahwa kolaborasi akan mempermudah penyelesaian suatu masalah dengan cepat dan tepat. Jangan lupa untuk selalu mengingat bahwa “sampahku adalah tanggung jawabku”. Mari bersama kelola sampah kita sendiri untuk menjaga bumi tetap hijau dan bersih sebagai warisan anak cucu dimasa depan!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021

Nama Penulis: Dibyo Agung Prabowo