Day 3. Persiapan dirumah aja

Hari ini aku masih bangun siang seperti biasanya, mematikan lampu yang masih terpancar dari tadi malam. Dulu aku suka tidur dalam gelap, sekarang aku bahkan tidak tahu kapan aku tertidur. Kebiasaan buruk menonton layar handphone masih menjadi kebiasannku akhir-akhir ini. Aku tau aku masih payah, aku harap masih bisa punya kesempatan untuk merubahnya. Aku masih ngantuk tapi aku tidak bisa menghindari perasaan ingin buang air kecil. Aku sudah tidak tahan lagi, aku menutup rasa bersalah dan sungkanku melewati mamah yang sedang sibuk memasak dagangannya. Iya, aku dulu sering banget membantu mamah memasak,membantu beliau membeli beberapa sayur dan lauk di pasar sebelum subuh. Tapi semuanya berubah setelah negara api menyerang. Hehe. Semuanya berubah setelah kejadian kecil yang membuatku malas berinteraksi lagi dengannya sampai tulisan ini dibuat. Kalian mungin berfikir kalau aku berlebihan, tapi bagiku, masih susah untuk seperti biasanya. Meskipun terkadang aku merasa kasihan dan menyesal. Tapi sejauh ini, aku rasa memang ini yang terbaik. Saling diam, tidak ada interaksi, tidak ada canda tawa. Memang sepi, tapi aku masih sanggup melakukannya.

Kotaku akan memberlakukan program dirumah saja nih selama dua hari. Program ini dilakukan dengan harapan untuk menekan jumlah angka penularan virus covid yang saat ini sudah mencapai satu juta jiwa. Program akan dilaksanakan besok hingga lusa. Beberapa ibu – ibu depan rumah sudah mulai mempersiapkan membeli beberapa pangan untuk bertahan selama dua hari. Pun juga mamah ku, hari ini beliau tumben sekali membuka kamar

Mamah : “Mas, ada uang 20.000 nggak?”

Aku        : “Nggak ada, adanya 50.000 tuh. Bawa aja”

Mamah : “Mamah butuhnya 20.000 buat beli ikan. Persiapan buat dirumah aja besok selama dua hari.”

Aku        : “Yaudah pake aja itu 50.000. Mas enggak ada uang 20.000. tinggal itu aja yang kecil.”

Mamah : “Yowis ngga jadi.”

Aku : “Lah……”

Hashh. Mamahku memang kadang aneh, kan tinggal pakai aja yaa, wong biasanya juga gitu. Hahaha. Tapi entah kenapa tidak diambil dan malah menutup pintu gitu aja. Aku jadi ngerasa tidak enak. Apa ada yang salah dari omonganku? Aku rasa tidak. Yasudahlah. Kalau kalian bagaimana? Apa kalian juga sedang mempersiapkan membeli beberapa pangan untuk persiapan dirumah aja selama dua hari besok? Cerita sini. hehe

Kejadian ini sedikit membuatku berfikir bahwa ketika kita tau hidup akan “terhenti” sementara, manusia begitu panik dan mencoba sedini mungkin mengumpulkan apa yang bisa menyelamatkan mereka selama dua hari besok. Lalu, apakah selama ini kita lupa bahwa, kita tidak pernah tau kapan kita akan berakhir? Kenapa aku begitu santai, kenapa begitu terlena seolah besok aku akan baik – baik saja. Kenapa aku masih belum bergairan mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang selamanya? Aku harap, semoga kejadian hari ini bisa menjadi titik balik dalam hidupku dan hidup kalian. ayo, kita coba bangkit dan berdiri, meskipun sangat susah, aku percaya Dia akan melihat langkah kecil kita yang tergopoh untuk mendekatiNya. Aku harap kita akan betul – betul tersadar dan tidak lengah lagi. Semangat! jangan halu, semoga bahagia selaluuu…..

Penulis: dibyoagungprabowoblog

Will dedicated Life in Healthy (Food and Body) and Humanity. #SellingForCaring!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s