Istimewa

Kalau bukan kita yang bertindak, siapa lagi?

Aku sama seperti kebanyakan masyarakat umum lainnya yang tidak pernah terlintas dipikiran untuk mengelola sampah secara bertanggungjawab seperti yang sudah dilakukan oleh Waste4Change. Melihat tumpukan sampah saja aku enggan apalagi untuk mengelolanya. Mencium baunya saja sudah mengganggu indera penciumanku apalagi memegangnya. Sejak kecil aku hanya diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Itu saja terkadang masih berat untuk melakukannya dengan sadar karena menurutku sampah adalah sesuatu yang tidak punya nilai, pantas untuk diabaikan dan menjijikkan. Hingga dua tahun lalu, aku mendapatkan kesempatan bergabung dengan salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang kesehatan dan lingkungan di Kota Yogyakarta. Disitulah aku diperkenalkan dengan metode pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan bank sampah. Siapa sangka, selama kurang lebih 5 bulan berkenalan dan berbaur dengan komunitas bank sampah menjadi titik awalku untuk peduli dengan sampah dan mengerti bagaimana harus mengambil peran.

Berbicara mengenai sampah, sampah ternyata sudah menjadi masalah dihampir semua negara tidak terkecuali Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Tahun 2020, menyebutkan bahwa volume timbulan sampah di Indonesia mencapai 67.8 Ton/tahun. Sebuah angka yang sangat fantastis karena timbulan sampah tersebut lebih besar dari Candi Borobudur. Mirisnya lagi adalah salah satu fasilitas pengelolaan sampah yaitu Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) di Indonesia yang berjumlah 280, satu per satu dikabarkan sudah mengalami kelebihan kapasitas. Aku merasa bersalah dan payah mengetahui kenyataan ini. Aku akui bahwa aku salah satu orang yang masih berkontribusi dalam meningkatkan volume sampah tersebut karena aku masih membuang sampah pada tempatnya saja. Aku kira dengan membuang sampah pada tempatnya saja sudah selesai tanpa harus merasa resah dan bersalah. Tetapi ketika tahu kenyataan pahit ini, aku akan memilih mengirimkannya ke perusahaan pengelolaan sampah yang profesional dan bertanggungjawab di Indonesia yaitu https://waste4change.com. Waste4Change sendiri sudah 7 tahun konsisten dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam pengelolaan sampah yang bertanggungjawab.

Sekilas kondisi permasalahan sampah diatas seharusnya sudah cukup membuka mata dan hatiku bahwa bumi sedang tidak baik baik saja. Bumi butuh bantuanku, bantunmu dan bantuan kita semua untuk segera bertindak dan ambil peran. Aku akan memberitahumu salah satu tindakan kecil yang berdampak besar pada perubahan volume timbulan sampah di TPA yaitu mulai mengelola sampah dari rumah. Anggap saja tindakan ini adalah sebagai bentuk tanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan sendiri. Aku rasa hal ini akan sangat mudah dilakukan mengingat sampah yang dihasilkan adalah milik sendiri dengan volume yang masih sedikit dibandingkan dengan volume yang terdapat di TPA. Harapannya bukan tidak mungkin jika 5 – 10 tahun mendatang volume timbulan sampah bisa berkurang jika kita mampu melakukannya secara bersama mulai sekarang. Lalu kita bisa menggunakan layanan Personal Waste Management di http://w4c.id/PWM untuk membawa dan mengelola sampah yang sudah terpilah dari rumah. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan permasalahan sampah dirumah dan terbebas dari rasa resah dan bersalah dengan bumi. Selain itu keuntungan yang kita dapatkan adalah kita dapat melakukan pemilahan 100% sampah anorganik, memperpanjang usia hidup material melalui daur ulang, mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA, meningkatkan kesejahteraan operator sampah, dan meningkatkan tingkat daur ulang sampah itu sendiri. Mengingat saat ini hanya 20% dari sampah plastik Indonesia yang didaur ulang (McKinsey, 2015).

Pengalaman pertama yang aku dapatkan ketika belajar mengelola sampah dari rumah adalah “ngapain sih kamu ambil sampah di tempat sampah? mirip pemulung saja!”. Meskipun disampaikan dengan candaan, kalimat itu mungkin akan menjadi hal yang wajar kalian dengar ketika selama ini keluarga belum mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Oleh karena itu, jangan pernah langsung putus asa, sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan ajarkan kepada mereka maksud dan tujuanmu melakukan hal tersebut. Mengubah kebiasaan seseorang memang tidak mudah dan membutuhkan waktu, namun perubahan itu akan nyata ketika kita mau memulainya. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika akhirnya aku melihat keluargaku turut serta melakukan hal yang sama.

Aku berharap diluar sana ada ribuan bahkan jutaan keluarga yang ikut melakukan hal serupa. Bahkan lebih hebat lagi ketika sekelas perusahaan yang memiliki banyak karyawan tetapi karena keterbatasan tenaga dan waktu untuk mengelola sampahnya sendiri bisa menggunakan layanan Pengelolaan Sampah yang dimiliki oleh perusahaan pengelolaan sampah bertanggungjawab Waste4Change di https://waste4change.com/official/service/responsible-waste-management untuk ikut mengambil peran dalam gerakan Sebarkan Semangat #BijakKelolaSampah. Keuntungan yang perusahaan dapatkan yaitu pendekatan manajemen sampah yang 100% terpilah, meningkatkan citra perusahaan, mengurangi timbulan sampah yang terbuang ke TPA, menaati peraturan pemerintah (PP) No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, serta mendukung Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 (JAKSTRANAS) dan bagian yang paling penting adalah meningkatkan kepedulian pegawai tentang isu sampah.

Terakhir, aku mau sedikit memberikan pengingat bahwa bumi kita hanya satu. Kalau bukan kita yang bertindak, siapa lagi? Aku percaya bahwa kolaborasi akan mempermudah penyelesaian suatu masalah dengan cepat dan tepat. Jangan lupa untuk selalu mengingat bahwa “sampahku adalah tanggung jawabku”. Mari bersama kelola sampah kita sendiri untuk menjaga bumi tetap hijau dan bersih sebagai warisan anak cucu dimasa depan!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021

Nama Penulis: Dibyo Agung Prabowo

Istimewa

Day 1. Meragukan mimpi sendiri

Haii. Kenalin, aku dibyo. Aku punya banyak banget keresahan dalam hidupku. Tapi aku selalu menyembunyikanya dari keluarga dan orang lain. Aku memilih untuk mengungkapkannya lewat tulisan. semoga dengan tulisan ini, aku bisa merasa lega dan didengar oleh kalian. Aku percaya kalian yang mampir disini adalah orang yang memang ditakdirkan oleh Tuhan untuk bertemu denganku melalui tulisan. Semoga kita semua bisa bahagia dengan apa yang kita punya sekarang yaa..

Ada yang umurnya sudah menginjak angka 24 tahun? Wah kita sama. Tapi mungkin ada beberapa dari kita yang ngga sama keadaan kesehatan fisik dan jiwanya. Hal – hal yang aku rasain diumur segini tuh, sibuk dengan pikiran yang selalu merasa kurang karena beberapa teman – teman seperjuangan baik ketika sekolah menengah atas maupun kuliah sudah menemukan kebahagiannya masing – masing. Padahal aku juga sama seperti mereka, aku sudah kerja, aku menghasilkan uang, hanya saja aku memang belum tertarik untuk mencari pasangan hidup. Entah kenapa, aku pengen banget punya mimpi yang harus berhasil aku wujudkan sebelum aku menikah. Eh apa nih, kenapa udah sampai menikah ya? Hahahah. Jujur, kadang ada momen yang bikin aku, apa nikah sekarang aja ya? Siapa tau bla bla bla bla. Bahkan ada kejadian yang menurutku lucu. Jadi waktu itu ceritanya aku sedang mengistirahatkan tubuh setelah bantu mamah masak di dapur. Tiba tiba saja pintu kamar dibuka…

Mamah : “ Mas, mau nikah ngga?” tanyanya tiba – tiba.

Aku        : Hah? kaget karna ga ada angin ngga ada ujan main samber aja.

Mamah : Iya, mau nikah ngga? Tanyanya lagi dengan muka datar.

Aku        : Apasih mam! Kenapa emangnya? Timpaku setengah bengek.

Mamah : Mamah ada uang nih, kalau mau nikah, sekarang aja yaaa..

Aku        : Hahahahaha mamah kira nikah tuh kaya beli ciki diwarung apa? Nggak!

Mamah : Yaudah, ngga nih? Masih mastin terus.

Aku        : Apaan sih mam, gila aja, makan apa sih tadi?

Mamah : Yudah, fix yaaaa. Uangnya tak taruh dideposit aja kalo gitu.

  Aku        : Yaudah sono, simpen aja biar jadi banyaaak. Aku mau nikah pake uang sendiri. Doain aja semoga rejeki mas banyaak. Ngga mau nyusahin orangtuaa. Jawabku melegakan

Mamah : Aamiin. Malah beneran mamah ngga repott..

Aku        : Yeeee.. berangkat sonoo. Ati ati dijalan, semoga laris jualannya

Begitulah aku sama mamahku. Dari dulu aku memang hanya dekat dengan mamah. Beliau bisa jadi teman sekaligus mamah. Tapi ya gitu, terkadang ada hal hal yang ngga bisa aku ceritain kepadanya karena mamah sudah terlalu lelah dengan tanggungjawabnya. Aku memang punya niat ketika kelak aku menikah, aku pengen pakai biaya sendiri. Bahkan aku pengen bisa ngasih uang ke kedua orangtuaku kelak. Semoga niat baik kita semua bisa terwujud yaaa. Kalau kamu gimana? Iya, kamu yang baca tulisan sampai kata ini, sudah ada bayangan belum? Jangan khawatir, bermimpi itu gratis kok, siapa tau semesta mengaminkan. Peluk.

Ngomongin tentang mimpi, diumur 24 tahun ini apa kamu masih percaya dengan impian? Aku pribadi masih, tapi sering juga takut untuk memulai. Bodohnya aku, kalau seperti ini terus mimpi akan tetap jadi mimpi. Nggak akan pernah jadi nyata. Ngomong – ngomong, memangnya mimpiku apa ya? Kok sampai aku ngga berani untuk memulainya? Jadi gini temen – temen, aku tuh pengen banget punya impian hidup damai di desa dengan menerapkan ilmu zero waste, pengelolaan sampah rumah tangga, ngelola kebun organic, membantu memberdayakan masyarakat di desa, membantu mereka untuk mendapatkan pandangan baru tentang apa yang bisa mereka hasilkan dengan sumberdaya yang ada disana. Aku tau, ini masih sulit bagiku karena aku masih takut dengan kemungkinan kegagalan, aku belum punya sumber income passive untuk menghidupiku selama didesa nanti, aku masih karyawan lepas di salah satu NGO yang bergerak dibidang lingkungan. Maka dari itu, bantu doain aku yaa teman – teman, semoga aku bisa memanfaatkan segala fasilitas digital yang ada sekarang. Semoga aku ngga malu, semoga aku kuat. Kamu juga yang udah baca sampai tulisan ini, semoga kamu dan aku berani untuk melangkah membangun mimpi ya. Semangat!!

Segini dulu yaaa, nanti lanjut lagi kalau udah resah gelisah hahahah.

Daaah!

Baik baik disana yaaaa, jangan halu, semoga bahagia selalu.

Day 52. Law of Attractions

Hai. Aku mau cerita sama kamu kalau akhir-akhir ini fyp Tiktok muncul akun yang membahas tentang law of attractions. Bukan ilmu yang asing lagi buat aku karena dulu pernah bersentuhan dengan ilmu tersebut. Apa sih law of attractions? LOA adalah sebuah konsep meyakini sesuatu hal yang belum kita miliki secara sadar dengan berjalannya waktu semesta akan mulai mencarikan jalan atas keinginan yang kita yakini tersebut. Pendeknya, yakin dulu baru dapat.

Ada pengalaman yang membuat aku akhirnya percaya bahwa apapun yang kita yakini, kita ucapkan dengan lisan, akan terwujud suatu saat. Cerita ini terjadi ketika aku masih kuliah, waktu itu ada sahabat yang mengajak untuk pulang ke kampung halamannya di Pemalang. Singkat cerita, kebiasaan masyarakat lokal disana ketika pagi hari adalah bercengkerama bersama dengan keluarga. Membahas hal – hal yang ringan, bertukar informasi dan tak lupa pasti ada tambahan dakwah dan nasehat. Ada momen ketika masuk ke topik pembahasan cita – cita, orantuanya sahabatku memberikan pertanyaan:

Tante    : kalau mas dibyo habis lulus mau ada rencana apa?

Aku        : Dibyo pengen balik kampung, bu. “bali ndeso, mbagun ndeso.” Ucapku dengan yakin dan   bayangan perasaan bangga ketika berhasil mewujudkannya.

Tante    : Wah bagus juga itu mas. Semoga apapun itu rencananya, bisa bertanggungjawab atas pilihan sendiri. Katanya dengan nada menenangkan khas ibu – ibu. Hehehe

tidak menyangka sama sekali kalau momen itu adalah gerbang pembuka dari pekerjaan yang aku dapatkan setelah lulus kuliah. Memang tidak langsung mengarah ke sasaran. Pemberian alam semesta yang aku dapatkan waktu itu sangat jauh dari konsep pemberdayaan masyarakat. Namun disinilah aku mencoba tetap tenang dan meyakini bahwa ini semua adalah sementara, waktu terbaikku akan datang dengan sendirinya. Benar saja, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan masyarakat dalam hal ini adalah pemberdayaannya. Senang sekali rasanya.

Cerita lainnya adalah waktu dimana aku masih berstatus pekerja di salah satu instansi pemerintahan di Kota Semarang. Aku mencoba untuk melamar pekerjaan baru yang dapat meningkatkan kemampuanku dalam hal pemberdayaan masyarakat dan pertanian organik. Kebetulan waktu itu ada NGO sesuai kriteria yang aku harapkan. Sayangnya aku gagal dan tahukan kamu apa yang aku lakukan? Aku bertingkah laku seperti aku lolos dan sudah bekerja disana dengan visualisasi gaji yang aku harapkan. Ajaibnya, tidak ada seminggu istirahat, aku mendapatkan tawaran membantu menyelesaikan survey di salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang lingkungan. Memang belum sesuai dengan kriteria yang aku minta tetapi aku tetap menerima dengan baik dan aku masih yakin bahwa waktuku akan datang dengan sendirinya.

Qodarullah, minggu terakhir sebelum kontrak selesai, aku mendapatkan email dari situs kerja NGO. Aku membaca ada sebuah NGO yang membuka lowongan kerja dibidang yang sesuai kriteria. Singkat cerita setelah proses pemberkasan dan wawancara. Alhamdulillah aku diterima dan yang lebih menakjubkan lagi adalah gaji yang aku dapatkan sesuai dengan apa yang aku yakini dulu. Pesan yang mau aku sampaikan adalah mulai yakini hal penting yang kamu pengen banget dapatkan, tenang ketika belum menerima yang sesuai, jalani hidup saat ini dengan maksimal dan tunggu pasti waktumu akan datang dengan sendirinya. Jangan halu, semoga sehat selalu….

Day 5. Perjalanan Pertama

Hujan masih mengguyur di hari kedua program “dirumah aja” khusus wilayah Jawa Tengah. Aku sedikit cemas dan kesulitan mengingat hanya punya waktu 4 hari saja untuk menyelesaikan kerja. Ditambah signal yang tidak bisa diajak kerja sama jika musim hujan tiba. Semuanya serba menyebalkan. Tujuh tahun tinggal di kota semarang, belum pernah aku rasakan hujan yang begitu lebat seperti akhir – akhir ini. Bencana alam terdengar dimana – mana, dari mulai banjir, tanah longsor, rumah roboh dan orang hanyut. Semua terjadi begitu cepat. Seakan kami tidak punya kesempatan untuk mengemas barang yang berharga. Semoga Allah berikan hati dan takdir yang lembut kepada mereka. aku pernah mendengar bahwa apapun yang terjadi didunia adalah netral, yang menjadikannya baik atau buruk adalah dari perspektif kita masing – masing. Hujan mungkin bisa jadi sesuatu yang sangat baik untuk mereka yang membutuhkannya, namun sebaliknya akan menjadi buruk kepada mereka yang merasa tidak membutuhkannya. Alam mustahil akan bekerja sesuai kemauan kita, kitalah yang harus belajar untuk mengendalikan perasaan untuk menerima apapun yang diberikannya.

Aku bergegas mengeluarkan sepeda motorku setelah hujan terlihat mereda. Aku tidak terlalu bersemangat namun ku niatkan untuk silaturahmi dan belajar dengan calon bank sampah dampingan. Aku percaya bahwa niat baik akan mempertemukan kita dengan orang – orang yang baik pula. Setiap pertemuan dengan mereka selalu menyimpan pengalaman yang tidak pernah aku dapatkan di bangku kuliah. Aku membaca dengan seksama terakhir pesan yang diberikan oleh salah satu pengurusnya. Aku merasa arah jalanku sudah benar, tapi beberapa kali aku hilang arah. Bertanya dengan penduduk setempat, tidak sedikit membuatku malah semakin hilang arah. Rasanya ingin menyerah tapi aku enggan melakukannya. Ikhtiar bertanya masih aku lakukan dan aku tidak punya pilhan lagi untuk tidak percaya dengan penduduk setempat. Terimakasih orang – orang baik, semoga Allah balas kebaikan kalian di dunia dan akhirat.

Akhirnya aku menemukan papan nama calon bank sampah binaan. Lega sekali rasanya. Aku lumayan kaget ketika melihat beberapa pengurus berkumpul menyambutku. Aku kira akan bertemu dengan ketuanya saja, tapi aku lupa, kalau ini adalah kali pertama pertemuanya. Tidak heran jika mereka ingin memberikan kesan yang berbeda. Selama bekerja di dibidang sosial tidak pernah aku temui manusia yang buruk hatinya. Semuanya menyenangkan dan membahagiakan. Aku semakin percaya bahwa mereka adalah orang – orang pilihan Tuhan untuk menjaga lingkungan kita. Semoga misi kami selalu mendapatkan dukungan dari semesta. Lama sekali kami duduk bersama, tanpa terasa hujan kembali turun, udara menjadi dingin, tapi masih saja terasa hangat sambutan mereka. aku sebenarnya mau berlama – lama dengan mereka tapi aku sadar masih harus melanjutkan perjalanan. Aku pamit ketika hujan kembali mereda, aku lupa belum memasukkan jas hujan kedalam bagasi motor. Astaga, kenapa aku bisa lupa? Bagaimana ini? Ckck. Benar saja ketika beberapa meter perjalanan, hujan kembali menerjang bersama – sama. Alih – alih meneruskan perjalanan bertemu calon binaan bank sampah, aku putar motorku untuk pulang ke rumah. Berniat melanjutkan dengan persiapan yang matang. Huhuhu cerobohnya aku. Udah dulu yaa, besok lanjut lagi. Jangan haluuu, bahagia selalu..

Day 4. Meme Pak Ganjar

Hari ini aku sangat susah untuk tidur, padahal aku sudah mencoba mematikan lampu kamarku sejak pukul 21.00. aku menyadari bahwa mematikan lampu adalah momen terbaik untuk mengistirahatkan mata dan tubuhku. Aku sangat suka kegelapan, aku seolah bisa menjadi mata – mata untuk setiap kejadian diluar sana. Aku bisa melakukan apapun tanpa harus dilihat orang lain. Aku suka kesenyapan dan kesendirian. Mataku terus mengamati ikan cupang yang aku letakkan di dekat jendela. Ikan yang sudah aku rawat sekitar tiga bulan ini sudah terlihat membesar dan ekornya mekar sempurna. Sungguh cantik dan menyenangkan untuk dipandang. Lama ku pandangi, langit tiba – tiba saja menurunkan hujannya tanpa aba – aba. Menderu dan sangat berisik. Lengkap sudah kesendirianku ditemani ikan dan hujan. Aku harap bisa segera terlelap karena besok ada rencana untuk menemui beberapa calon bank sampah dampingan.

Sial. Benar – benar sial. Aku masih saja tidak bisa terlelap. Perutku terasa lapar. Aku masing ingat ada sambal teri kesukaanku di meja makan dan nasi hangat di rice cooker. Aku fikir itu adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Hahahh. Segera saja aku mengambil porsi yang banyak, aku harap setelah mencoba untuk mengisi perut sampai kenyang, aku bisa segera terlelap. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan alarm pukul 3.00 pagi sudah berbunyi. Wah gimana nih? Kapan aku akan tertidur? Huft. Yasudahlah, aku mencoba untuk positif thingking, mungkin aku tidak akan tertidur sampai subuh. Aku masih mendengar hujan yang sangat deras diluar rumah. Benar – benar malam yang panjang. Aku mengambil hoodie dan memakainya. Mencoba untuk tidur bersama dingin dan hujan di kota semarang.

Aku terbangun mendengar suara berisik bapak yang sedang berbincang dengan tetangga. Melihat dari jendela kamar, diluar masih hujan. Apakah hujan tidak berhenti semalaman? ah tidak mungkin. Aku buka handphone dan ternyata sudah pukul 11.00 siang. Aku kaget dan segera mengambil handuk untuk mandi. Aku masih ingat ada agenda bertemu dengan calon bank sampah dampingan hari ini. Setelah selesai mandi, aku buka handphone dan bermaksud untuk meminta maaf kepada mereka atas keterlambatanku. Tetapi ternyata mereka sudah mengirimi aku pesan terlebih dahulu. Mereka meminta pengunduran pertemuan karena masih hujan dan beberapa lokasi terkena banjir. Astaghfirullah. Jadi, hujan memang tidak berhenti dari tadi malam. Segera aku membalas pesan tersebut dan mengiyakan untuk mengundur jadwal pertemuan. sedikit kecewa tetapi pasti yang terbaik.

Iseng membuka story whatsapp, banyak sekali yang memposting meme bapak ganjar dengan tulisan “Pie le? Saiki reti to kenopo tak kon neng omah? Neng njobo udan.” Tanpa sadar, aku terkekeh juga membacanya. Iya sih, hari pertama program dirumah aja memang sangat pas momennya. Terimakasih pak ganjar, aku bahagia sekaligus sedikit sedih. Udah dulu yaaa, nanti lanjut lagi. Jangan halu, semoga bahagia selaluu… (jangan lupa, dirumah aja). hehe

Day 3. Persiapan dirumah aja

Hari ini aku masih bangun siang seperti biasanya, mematikan lampu yang masih terpancar dari tadi malam. Dulu aku suka tidur dalam gelap, sekarang aku bahkan tidak tahu kapan aku tertidur. Kebiasaan buruk menonton layar handphone masih menjadi kebiasannku akhir-akhir ini. Aku tau aku masih payah, aku harap masih bisa punya kesempatan untuk merubahnya. Aku masih ngantuk tapi aku tidak bisa menghindari perasaan ingin buang air kecil. Aku sudah tidak tahan lagi, aku menutup rasa bersalah dan sungkanku melewati mamah yang sedang sibuk memasak dagangannya. Iya, aku dulu sering banget membantu mamah memasak,membantu beliau membeli beberapa sayur dan lauk di pasar sebelum subuh. Tapi semuanya berubah setelah negara api menyerang. Hehe. Semuanya berubah setelah kejadian kecil yang membuatku malas berinteraksi lagi dengannya sampai tulisan ini dibuat. Kalian mungin berfikir kalau aku berlebihan, tapi bagiku, masih susah untuk seperti biasanya. Meskipun terkadang aku merasa kasihan dan menyesal. Tapi sejauh ini, aku rasa memang ini yang terbaik. Saling diam, tidak ada interaksi, tidak ada canda tawa. Memang sepi, tapi aku masih sanggup melakukannya.

Kotaku akan memberlakukan program dirumah saja nih selama dua hari. Program ini dilakukan dengan harapan untuk menekan jumlah angka penularan virus covid yang saat ini sudah mencapai satu juta jiwa. Program akan dilaksanakan besok hingga lusa. Beberapa ibu – ibu depan rumah sudah mulai mempersiapkan membeli beberapa pangan untuk bertahan selama dua hari. Pun juga mamah ku, hari ini beliau tumben sekali membuka kamar

Mamah : “Mas, ada uang 20.000 nggak?”

Aku        : “Nggak ada, adanya 50.000 tuh. Bawa aja”

Mamah : “Mamah butuhnya 20.000 buat beli ikan. Persiapan buat dirumah aja besok selama dua hari.”

Aku        : “Yaudah pake aja itu 50.000. Mas enggak ada uang 20.000. tinggal itu aja yang kecil.”

Mamah : “Yowis ngga jadi.”

Aku : “Lah……”

Hashh. Mamahku memang kadang aneh, kan tinggal pakai aja yaa, wong biasanya juga gitu. Hahaha. Tapi entah kenapa tidak diambil dan malah menutup pintu gitu aja. Aku jadi ngerasa tidak enak. Apa ada yang salah dari omonganku? Aku rasa tidak. Yasudahlah. Kalau kalian bagaimana? Apa kalian juga sedang mempersiapkan membeli beberapa pangan untuk persiapan dirumah aja selama dua hari besok? Cerita sini. hehe

Kejadian ini sedikit membuatku berfikir bahwa ketika kita tau hidup akan “terhenti” sementara, manusia begitu panik dan mencoba sedini mungkin mengumpulkan apa yang bisa menyelamatkan mereka selama dua hari besok. Lalu, apakah selama ini kita lupa bahwa, kita tidak pernah tau kapan kita akan berakhir? Kenapa aku begitu santai, kenapa begitu terlena seolah besok aku akan baik – baik saja. Kenapa aku masih belum bergairan mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang selamanya? Aku harap, semoga kejadian hari ini bisa menjadi titik balik dalam hidupku dan hidup kalian. ayo, kita coba bangkit dan berdiri, meskipun sangat susah, aku percaya Dia akan melihat langkah kecil kita yang tergopoh untuk mendekatiNya. Aku harap kita akan betul – betul tersadar dan tidak lengah lagi. Semangat! jangan halu, semoga bahagia selaluuu…..

Day 2. Mulai menua huhu

Aku hari ini mau cerita keresahanku tentang sirkel pertemananku sekarang dan bagaimana kondisiku saat ini. Hari ini aku bangun siang seperti biasanya, iya semenjak aku kerja di perusahaan sekarang, aku menjadi lebih banyak waktu luang karena pekerjaannya yang fleksible dan tidak mengharuskanku bekerja dari kantor. Awalnya aku bahagia karena aku akan bisa lebih banyak melakukan kegiatan yang mendekatkanku pada mimpi. Nyatanya, alih alih aku memasak, riset pasar, eksperimen, atau lainnya aku malah asik menonton tiktok, maraton drama korea di telegram, melihat video di youtube. Aku menjadi tidak produktif dan terjebak dalam lingkaran ini terus menerus hingga saat tulisan ini ditulis. Aku menyadari bahwa aku semakin payah, aku menjadi malas, minus mataku ku rasa semakin bertambah, pun juga dengan mata silinderku. Mataku menjadi merah karena sering aku paksain untuk begadang menontn drama korea, manatap layar smartphone seharian. Kalau seperti ini terus, aku akan semakin rusak dan menua. Astaga, aku tidak mau ini terjadi padaku secepat ini. Temen – temen pasti menyangka kalau aku tidak bahagia kalau aku terlihat seperti ini. Wah, perasaan macam apa ini, kenapaa aku lebih mementingkan persepti teman – temanku dari pada keadaan diriku sendiri.

Hari ini aku coba untuk mencari informasi di internet bagaimana cara menyembuhkan mata merah, silinder, minus, dll. Lama aku menggeser layar handphoneku, aku terhenti pada salah satu website dari perusahaan penyembuhan mata terbaik di kota semarang. Gila, harga untuk pemeriksaan mata 700.000 sekali periksa, itu hanya pemeriksaan dan konsultasi. Belum dengan tindakan dan pengobatan yang sudah menyentuh angka dua digit. Aku tertegun. Kaget sekali asli. Aku seketika menyesal karena tidak bisa menjaga pemberiannya dengan baik. Aku jadi berfikir untuk segera menjauhkan hidup dari handphone. Aku pengen hiatus tahun depan, tapi aku lagi – lagi tersadar kalau aku belum punya penghasilan passive. Hah, bagamana ini? Aapa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyerah begitu saja? Aku tidak mau, aku mau cari cara untuk mendapatkan passive income dalam satu tahun ini.

Salah satu rekan kerjaku menghubungiku hari ini. Dia memintaku bertemu dengan teman – teman sewaktu aku kerja di kantor pemerintahan. Aku sebenarnya sangat enggan bertemu. Aku tidak cocok dengan mereka. Tapi ada satu tanggungjawab yang mengharuskanku pergi kesana. Aku harus mengembalikan kunci salah satu ruang yang masih aku bawa. Bodoh sekali aku, kenapa pula aku harus lupa mengembalikannya waktu itu. Issshhh. Dengan berat hati aku putuskan untuk mengiyakan rencana itu. Lalu, aku tersadar apakah aku akan menemui mereka dengan keadaanku yang seperti ini? Oh tidak, aku akan olahraga hari ini, aku akan merawat wajahku dengan masker andalanku selama ini. Tapi bagaimana dengan mataku? Apakah aku harus menyembunyikannya? Aiss. Bagaimana bisa? Hah. apakah aku harus berbohong kepada mereka atau aku akan cuek dan tidak peduli dengan penampilanku? Entahlah. Aku tidak tau mau bagaimana. Aku berharap aku bisa menemui mereka dengan keadaan yang terbaik dan mungkin ini adalah waktu yang terbaik untukku. Hah menulis benar –benar bisa menjadi andalanku untuk menuangkan semua keresahanku. Bagaimana dengan kalian? apakah kalian juga seperti itu? Hihi, to dulu sini!!

Sebenernya aku masih ada satu keresahan yang aku sembunyikan dari teman – temanku, tentang kenapa aku akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerjaku di kantor pemerintahan. Tapi sepertinya itu terlalu panjang kalau harus aku ceritakan sekarang. Hahaha nanti saja yaaa. Sekarang udah dulu. Jangan halu, semoga bahagia selaluu. Daaah

After Graduated

IMG-20171108-WA0010
dari kiri : Farah Aditya (Sahabat Se-topik dan Se-dosen pembimbing Skripsi) dan Saya

Assalamualaikum wr wb..

Alhamdulillah, saya bersyukur banget akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sarjana tahun 2017 (telat banget ya? biarin!) dan resmilah saya menjadi seorang pengangguran. Sebagai manusia pada umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana maka langkah selanjutnya, saya memilih untuk bekerja. Alhamdulillah saya lulus bulan november 2017, kemudian melempar surat pekerjaan ke berbagai perusahaan, baik sejurusan dengan bidang study maupun yang bukan. intinya, ada lowongan apapun saya lamar, karena ngga tau rejekinya nanti yang mana.

Alhamdulilllah setelah proses pencarian panjang selama 2 bulan (Desember-Januari), Lanjutkan membaca “After Graduated”

#KatrokTraveler2 Antara Boyolali dan Klaten

#KatrokTraveler2 menceritakan perjalanan empat manusia pribumi yang sedang mencari salah satu obyek wisata di sawit. Gunung? Laut? Bukan. obyek wisata yang kami maksud adalah KAMPUNG LELE. sudah lama sekali sejak aku kuliah di Perikanan, salah satu ikon boyolali tersebut sering di perbincangkan. dan baru sekarang aku mendapatkan kesempatan main kesana.

perjalanan dari semarang menuju kampung lele membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam. berbekal nama ketua yang diceletukkan oleh dosen saat kuliah pemasaran hasil perikanan dan alamat yang aku serching di google, kami berempat nekad berangkat dengan niat untuk mengetahui bagaimana sistem pemasaran yang terdapat di kampung lele. tidak mudah untuk mencari sebuah alamat, kami sempet nyasar. itu wajar. traveling tanpa nyasar bagai sayur tanpa garam. *jangan ada musik dangdut dulu*. Nyasar adalah cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa the power of mout itu mutlak untuk digunakan. Setelah tanya dengan penduduk sekitar, akhirnya kita sampai dan mata terus menyusur ke setiap petak sawah yang terdapat kolam dengan mulut yang tidak sengaja terbuka. Yaah beginilah #KatrokTraveler ketika melihat sesuatu yang baru.

Tugas kita selanjutnya adalah mencari seseorang yang bernama Bapak Darseno. beliau adalah ketua di kelompok tani kampung lele. pertemuan kami dengan bapak darseno memang tidak sengaja, kami bertemu dengan beliau di sebuah warung yang kebetulan waktu itu kita sedang beristirahat dan menanyakan identitasnya kepada pemilik warung. Alhamdulillah ya, inget, keberuntungaan adalah salah satu bukti doa orangtua mu dikabulkan oleh Allah.

Kami kemudian berbincang-bbincang dengan beliau, memberikan informasi maksud kedatangan kami kesini untuk apa. belaiu mengijinkan. kami di ajak untuk melihat langsung bagaimana kondisi disana. “kebetulan juga hari ini kita ada kunjungan 200 orang dari lampung yang mau studi banding dengan kita mas” imbuh pak darsono. wow bener-bener wow. ini sangat ajaib. disitu aku merasa sebagai #Katroktraveler lagi. Hahaha

Baiklah aku akan berusaha mereview apa yang sudah saya dapatkan selama kurang lebih 3 jam disana.

  1. kampung lele merupakan sebuah kelompok tani yang diketuai oleh bapak darseno.
  2. Kegiatan yang terdapat di kampung lele adalah budidaya ikan lele dan cacing sutera.
  3. Benih ikan berasal dari luar daerah dan beberapa melakukan pembibitan sendiri dengan mengawinkan indukan dengan beberapa kriteria.
  4. kegiatan budidaya skala ekstensif yang artinya membutuhkan lahan yang luas dengan sistem pemberian pakan menggunakan pakan buatan dan alami (cacing sutera)
  5. Kegiatan budidaya tidak menggunakan obat obat kimia sama sekali, karena mereka mengacu kepada CPIB (cara pembudidaya ikan yang baik dan benar).
  6. cara untuk mengatasi penyakit atau lain sebagainya pada ikan adalah dengan memainkan aliran air, di puasakan dan mengatur kedalaman (rata-rata kedalaman 1 meter) dan memiliki saluran sanitasi
  7. Masing masing anggota berusaha mencari link pasar. kegiatan panen sudah dijadwalkan per kolam dengan pembagian wilayah pasar yang berbeda. Tidak ada perbedaan harga jual  ke bakul/tengkulak dengan pasar. Meskipun terlihat mahal namun pasar tetep mencari stok lele dari kampung lele karena kualitasnya.
  8. keunggulan produk lele di kampung lele adalah mereka benar benar mempertahankan produk lele memalui CPIB.
  9. lokasi kampung lele berdekatan dengan kampung mina padi

Nah, itu dia sedikit ulasan aku mengenai kampung lele. bagi siapapun yang mau berkunjung kesana, silahkan,monggo, orang orang nya welcome banget dan insyaAllah ilmunya bermanfaat untuk masa depan.

1472309082815
Dari kiri : Saya, Rizal, Bapak Darseno dan Lidya

Mumpung di Klaten, tidak ada salahnya untuk mampir di Umbul. umbul di klaten sangat banyak, yang sudah terkenal sih umbul ponggok. padahal masih banyak umbul lainnya yang tidak kalah bagus dan bening. Umbul Penganti misalnya. lokasinya tidak jauh dari umbul ponggok. biaya retribusinya masih murah Rp 3000 untuk satu orang. bagi yang mau snorkling bisa menyewa snorkel, masih murah menurutku, cuman Rp. 10.000. Naah abis snorkel bawaanya laper. tenang. disana makanannya masih murah. benar benar harga ndeso Hahahah..

20160828_102446
Selamat menikmati makan siang mu #KatrokTraveler

Demikian secuil informasi perjalanan aku selama di Klaten, kalau ada yang di diskusikan silahkan tinggalkan apapun di kolom komentar. sekian.

Salam #KatrokTraveler!

#KatrokTraveler1

 

Selamat Pagi Katroktraveler..

Sebagai seorang traveler, seharusnya bukan soal alam aja yang harus banget di explore. masih banyak hal lain yang patut kalian explore. memang pemandangan alam seperti pengunungan, laut dan sebagainya mampu memanjakan jiwa yang sedang butuh ketenangan. namun, tidak ada salahnya apabila sekarang kalian mencoba untuk traveling ke tempat tempat yang dapat menambah ilmu pengetahuan. Selain menambah ilmu pengetahuan, tentunya kalian bisa mengeksplore apapun yang ada didaerah tersebut.

tempat pertama yang menjadi list #KatrokTraveler aku adalah Jepara. perjalanan ini didasari niat untuk belajar cara membuat biogas dari kotoran ternak. di sana, aku belajar biogas dengan bapak Lilik Setyo Wibowo, beliau adalah seorang pengusaha yang dulunya bekerja sebagai “pengasuh ayam” disebuah perusahaan ternak. sekarang, beliau sudah memiliki usahanya sendiri, ya walaupun masih dalam skala kecil, namun omsetnya udah fantastis. usaha yang digeluti bapak lilik adalah ternak puyuh. beliau memasarkannya ke beberapa daerah seperti simo, rembang dan lain-lain. bagi kalian yang sedang membutuhkan perlengkapan ternak puyuh bisa tinggalkan pesan dikolom komentar ya Hahahaha.

seiring berjalannya waktu, salah satu masalah yang dihadapi oleh para peternak adalah limbah kotoran. bau. bahkan bisa mengganggu masyarakat setempat apabila lokasinya berdekatan dengan kampung. namun, hal itu tidak menjadi masalah untuk bapak Lilik, beliau berhasil mengolah limbah kotoran ternak menjadi biogas yang mampu dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar. proses pembuatan biogas tersebut menggunakan kotoran burung puyuh. bahan baku tersebut memiliki kelebihan dibandingkan dengan kotoran sapi maupun kambing. kelebihannya adalah biogas yang dihasilkan oleh kotoran puyuh lebih banyak dibandingkan kotoran hewan lainnya seperti kotoran sapi. namun kelemahannya adalah prosesnya untuk menghasilkan biogasnya lebih lama. biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan menjadi Gas untuk memasak, Lampu dan pemanas air untuk mandi.

buat kalian yang mau belajar biogas, silahkan mampir ke rumah beliau. belajar biogas sangat penting untuk investasi dimasa depan kalian. kalian insyaAllah tidak akan repot repot beli gas LPG yang harganya makin kesini makin tinggi. untuk yang mau diskusi, silhkan tinggalkan pesan dikolom komentar. 🙂

20160820_090218
DVD Materi Biogaas

Selain belajar tentang biogas, tidak afdol rasanya bila berkunjung ke kota orang tanpa mecicipi kuliner khasnya. Ada yang tahu kuliner khas di Jepara yang sangat cocok untuk menu makan siang? Jika belum, berarti kalian termasuk #KatrokTraveler Hahahaha. Dijepara ada kuliner yang namanya Balungan. Seperti namanya, kuliner ini berbahan baku balung atau “tulang” dalam bahasa indonesia nya. Rasanya? Pedas, manis, dan asem. mantab sekali bung! kalin harus cobain. Harganya masih terjangkau banget. warung balungan hanya buka dari jam 09.00-12.00. jangan tanya pengunjungnya seberapa. membludaaak! Segera datang ke sana yaaa…

20160820_113448
Selamat menikmati #KatrokTraveler

Nah, menjelang sore hari, paling enak memang menikmati pemandangan yang bikin adem hati dan pikiran. Jepara adalah kota pesisir yang memiliki banyak pantai. kalian bisa pilih pantai apapun, tapi aku pilih pantai bandengan. karena kebetulan waktu itu sedang mengikuti salah satu agenda teman. Asli. menjelang sore, pemandangannya indah banget. kalau boleh milih, mau bangun rumah disana aja. biar tiap hari bisa melihat pemandangan yang waw.

20160820_171635
Sunset di Tanah Bandengan, Jepara. Hahahaha

Sekian perjalanan #KatrokTraveler1 di kota kartini, Jepara semoga bermanfaat informasi diatas. nantikan perjalanan aku yang selanjutnya yaa…

P.s terimakasih untuk mas Dewa yang mau nganterin keliling kota tempat tinggalmu. Hahaha